Sabtu, 20 November 2010

KOHESIVITAS DAN INTERAKSI

  • Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas kelompok (group activity) dengan kohesivitas. Hal ini disebabkan karena adanya aktivitas kelompok yang efektif, maka akan terbentuk  kohesivitas kelompok.
  • Terdapat hubungan yang signifikan antara interaksi kelompok  (group interaction) dengan  kohesivitas kelompok. Hal ini disebabkan karena adanya interaksi antar anggota yang terus menerus, maka akan membentuk kohesivitas kelompok.
  • Terdapat hubungan yang signifikan antara perasaan kelompok (group sentiment) dengan kohesivitas kelompok. Hal ini disebabkan karena adanya perasaan positif antar anggota, maka mempengaruhui terbentuknya kohesivitas kelompok.
Hubungan antar kelompok adalah interaksi sosial antara dua kelompok atau lebih. Kelompok yang saling berhubungan ini diklasifikasikan berdasarkan kriteria fisiologis dan kebudayaan. Hubungan antar kelompok bukanlah hubungan yang tiba-tiba terbentuk. Hubungan ini merupakan akumulasi dari serangkaian hubungan-hubungan sosial yang ada. Hubungan ini mengandung sejumlah dimensi, antara lain dimensi sejarah, sikap, perilaku, gerakan sosial, dan institusi. Di samping itu terdapat pula sejumlah faktor yang mempengaruhi terbentuknya hubungan antar kelompok ini, yaitu rasialis, etnisitas, seksisme, dan ageisme.

KOHESIVITAS

Pengertian Kohesivitas
            Menurut Collins dan Raven (1964) kohesivitas adalah kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal di dalam kelompok dan mencegahnya meninggalkan kelompok.
            Kohesivitas kelompok merupakan derajat dimana anggota kelompok saling menyukai, memiliki tujuan yang sama, dan ingin selalu mendambakan kehadiran anggota lainnya. Biasanya kohesivitas ini dikaitkan dengan produktivitas kelompok. Namun tidak semua bentuk kohesivitas kelompok ini berdampak positif, karena anggota bisa merasa tertekan untuk selalu conform terhadap norma kelompok.
            Menurut Mc David & Harori (1964), kohesi kelompok diukur dari :
ketertarikan satu sama lain secara interpersonal
ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok
sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat pemuas
kebutuhan anggotanya

Jumat, 12 November 2010

PENGERTIAN GROUPTHINK

Groupthink merupakan proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif dimana anggota-anggotanya berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya menjadi tidak efektif lagi.
 Groupthink adalah istilah yang diciptakan oleh psikolog sosial Irving Janis (1972), terjadi ketika sebuah kelompok atau individu membuat keputusan yang salah karena tekanan kelompok mengarah ke penurunan "efisiensi mental, tes realitas, dan moral penghakiman".
Janis memberikan definisi berikut groupthink: 
 Sebuah cara berpikir bahwa orang-orang terlibat dalam ketika mereka sangat terlibat dalam sebuah kelompok kohesif, ketika para anggota 'hasrat untuk kebulatan suara menimpa motivasi mereka untuk secara realistis menilai program alternatif tindakan.
 Groupthink adalah efek samping dari kekompakan dalam kelompok, telah dibahas oleh Lewin pada tahun 1930.   Ini merupakan faktor penting untuk dipertimbangkan dalam proses pengambilan, seperti lokakarya, rapat, konferensi, komite, dll

Sumber : 1. Handout Psikologi Kelompok, Klara Innata Arishanti, S.Psi
               2. www.softpanorama.org

GEJALA GROUPTHINK

1. Pencarian kesepakatan yang terlalu dini
a. Tingginya tekanan konformitas
b. Sensor diri terhadap ide-ide yang tidak disetujui
c. Adanya minguard
* Gate keeping : mencegah informasi dari luar agar jangan sampai  mempengaruhi kesepakatan kelompok
* Dissent containment : mengabaikan mereka-mereka yang memiliki ide-ide yang bertentangan dengan kesepakatan
d. Persetujuan yang tampak

2. Ilusi dan mispersepsi
a. Ilusi invulnerability kelompok selalu benar dan kuat
b. Ilusi moral
c. Persepsi bias tentang out group buas, jelek, dll
d. Collective rationalizing

Sedangkan menurut Irving Janis (1972) ada delapan gejala dalam groupthink, diantaranya :
  • Memiliki ilusi kekebalan
  • Keputusan rasionalisasi miskin
  • Percaya dalam moralitas kelompok
  • Berbagi stereotip yang membimbing keputusan
  • Berolahraga langsung tekanan pada orang lain
  • Tidak mengekspresikan perasaan sejati Anda
  • Mempertahankan suatu ilusi kebulatan suara
  • Menggunakan mindguards untuk melindungi kelompok dari informasi negatif

Sumber :   1.  Handout Psikologi Kelompok, Klara Innata Arishanti, S.Psi
    1. Small Group Communication

PENCEGAHAN ATAU SOLUSI DALAM GROUPTHINK

Membatasi pencarian keputusan secara dini
a. meningkatkan open inquiry
b. kepemimpinan yang efektif
c. multiple group subgroup

2. Mengoreksi mispersepsi dan error
a. mengakui keterbatasan
b. empati
c. pertemuan ‘kesempatan kedua’

3. Menggunakan teknik-teknik keputusan yang efektif
Tahap I         : kelompok harus terima tantangan dengan memilih solusi yang mungkin  terbaik
Tahap II    : kelompok harus mencari alternatif solusi dengan membuat daftar
Tahap III  : evaluasi sistematik terhadap alternatif-alternatif pada tahap-tahap hasil = konsensus
Tahap IV   : mengubah konsensus menjadi keputusan
Tahap V     : mematuhi keputusan yang diambil

Beberapa solusi dalam groupthink, antara lain:
  • Menggunakan kelompok pembentuk kebijakan yang bertanggung jawab kepada kelompok yang lebih besar
  • Setelah pemimpin tetap tidak memihak
  • Menggunakan kelompok kebijakan yang berbeda untuk tugas yang berbeda
  • Membagi ke dalam kelompok dan kemudian mendiskusikan perbedaan
  • Membahas dalam sub-kelompok dan kemudian melaporkan kembali
  • untuk menawarkan satu kesempatan terakhir untuk memilih lain tindakan
Sumber :   1.  Handout Psikologi Kelompok, Klara Innata Arishanti, S.Psi
    1. Small Group Communication

TEORI GROUPTHINK

Teori groupthink adalah teori yang heuristic yaitu, teori dengan elemen yang telah banyak digunakan dalam kajian dan telah mendapat banyak perhatian dari banyak ilmuan komunikasi dan psikologi social (misalnya Cline, 1990; Courtright, 1978; Pavvit & Jhonson, 2002; Turner & Pratkanis, 1998; Yetiv, 2003). Teori ini telah menghasilkan beberapa asumsi mengenai perilaku kelompok dan groupthink tetap menjadi bagian yang penting dari literatur mengenai pengambilan keputusan dalam kelompok (Aldagg & Riggs Fuller, 1998)

Sumber : West, R. & Turner, L. H. (2003). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan    Aplikasi. Edisi ke-3. Jakarta : Salemba Humanika

Teori Perilaku Kolektif

Kolektif : kumpulan individu yang lebih daripada skedar agregrat, tapi juga bukan kelompok sebenarnya.
Tipe kolektif dibagi menjadi :
a. Social Agregrat : collective outburst (riots, mobs, dsb)
b. Collective Movement : organisasi politik, kampanye nasional, dsb

a. Teori Konvergen
Agregrat mewakili orang dengan kebutuhan, keinginan dan emosi situasi crowd
memicu pelepasan spontan dari perilaku-perilaku yang sebelumnya terkontrol.

b. Teori Contagion (Penularan)
Emosi dan perilaku dapat ditransmisi ‘(ditular)’ dari satu orang ke orang lain
sehingga orang cenderung berperilaku sangat mirip dengan orang lain.

c. Teori Emergent-Norm (Perkembangan Norma)
Teori gabungan konvergen – contagion, crowd, mob dan kolektif lainnya hanya
kelihatan setuju sepenuhnya dalam emosi dan perilaku karena anggotanya patuh
pada norma yang relevan dalam situasi tertentu.

Sumber : Handout Psikologi Kelompok, Klara Innata Arishanti, S.Psi